Teknologi Lahir dari Krisis dan Rasa Takut Manusia
Peneliti kebijakan teknologi Wahyudi Djafar

Teknologi Lahir dari Krisis dan Rasa Takut Manusia

Rabu, 8 Okt 2025

JAKARTA – Peneliti kebijakan teknologi Wahyudi Djafar menilai kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), selalu lahir dari situasi krisis dan ketakutan manusia terhadap masa depan. Ia menyebut, sejak masa perang hingga era digital kini, inovasi selalu muncul dari upaya bertahan hidup.

“Teknologi lahir dari rasa takut dan ketidakpastian manusia terhadap lingkungannya,” kata Wahyudi dalam diskusi bertajuk “Refleksi Situasi HAM dalam Semesta Digital” di kantor Elsam, Jakarta, Jumat, 22 Agustus 2025. Acara itu digelar untuk memperingati ulang tahun ke-32 Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam).

Peneliti kebijakan teknologi ini menjelaskan, sejarah mencatat banyak penemuan besar lahir dari situasi konflik. Ia mencontohkan, pada masa Perang Dunia II, ilmuwan Inggris Alan Turing menciptakan mesin pemecah kode Enigma milik Jerman, yang kemudian menjadi dasar pengembangan kecerdasan buatan.

“Setelah Perang Dunia, Perang Dingin melahirkan internet. Amerika Serikat membentuk DARPA dan mengembangkan ARPANET sebagai jaringan militer. Internet awalnya bukan untuk publik,” ujar Wahyudi.

Ia menambahkan, pasca-serangan 11 September 2001, pemerintah Amerika Serikat meluncurkan proyek Total Information Awareness (TIA) yang mengumpulkan data warga dunia atas nama keamanan nasional. “Dari situ lahir praktik mass surveillance atau pengawasan massal,” katanya.

Menurut Wahyudi, model pengawasan yang dulu dilakukan negara kini ditiru oleh korporasi teknologi besar. “Dari situ muncul kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism), di mana data pribadi digunakan untuk keuntungan ekonomi,” ujarnya.

Ia menyebut, fenomena itu kini makin kuat karena negara dan korporasi sama-sama berlomba menguasai data warga. “Melalui identitas digital dan sistem pembayaran elektronik, negara bisa memantau seluruh aktivitas warganya,” kata dia.

Wahyudi juga mengingatkan bahwa kecerdasan buatan generatif membawa tantangan baru bagi demokrasi. “Konten buatan AI sering kali lebih meyakinkan dibanding fakta aslinya. Ini berbahaya jika literasi digital masyarakat rendah,” ujarnya.

Ia menyoroti rendahnya indeks kesantunan digital dan literasi informasi di Indonesia yang membuat publik rentan terjebak informasi palsu. “Orang lebih percaya media sosial daripada media arus utama. Ini ancaman serius bagi demokrasi,” katanya.

Beliau menegaskan pentingnya prinsip human-centric dalam pengembangan teknologi agar tidak mengabaikan aspek kemanusiaan. “Kita perlu memastikan teknologi berpihak pada manusia, bukan menggantikannya,” ungkapnya.

Diskusi tersebut dimoderatori oleh Direktur Eksekutif ELSAM, Desiana Samosir, dan menghadirkan sejumlah pembicara seperti akademisi Widodo Dwi Putro, mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman, serta aktivis perempuan asal Aceh, Suraiya Kamaruzaman.

Penulis: Dodi Sanjaya

A R T I K E L T E R K A I T

Selasa, 20 Apr 2021
Undang-undang yang baik adalah undang-undang yang keberadaanya memiliki alasan filosofis, sosiologis, dan yuridis
Jumat, 8 Des 2023
Prinsip tersebut meliputi kebermanfaatan secara sosial, tidak menciptakan bias, keamanannya teruji, akuntabel kepada pengguna, perlindungan konsumen melalui privacy by design, dan menerapkan standar internasional
+