Demokrasi Indonesia Dikuasai Senyawa Oligarki dan Otoritarianisme
Jakarta — Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Mataram, Prof. Widodo Dwi Putro, menilai demokrasi Indonesia pascareformasi tengah menghadapi fase berbahaya akibat berpadu atau “bersenyawa”-nya kekuatan oligarki dengan otoritarianisme.
Pandangan itu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk “Refleksi Situasi HAM dalam Semesta Digital” di kantor Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Jakarta, Jumat (22/8/2025).
Menurut Widodo, sistem politik Indonesia kini tak lagi sepenuhnya demokratis. Setelah reformasi, kekuasaan tidak lagi tunggal seperti masa Orde Baru, namun justru terpecah ke berbagai pusat kekuatan yang saling melayani kepentingan ekonomi.
“Kalau dulu oligark hanya melobi penguasa tunggal, sekarang mereka ikut menguasai parlemen dan kabinet,” ujarnya.
Ia menggambarkan kondisi itu sebagai “simbiosis” antara oligarki dan otoritarianisme baru. Akibatnya, kata dia, politik tak lagi berpihak pada kepentingan rakyat, melainkan terkonsentrasi pada segelintir elite ekonomi dan politik.
“Demokrasi yang dulu kita perjuangkan dengan penuh keyakinan, kini justru menjadi demokrasi untuk satu persen oleh satu persen, dan untuk satu persen,” katanya.
Widodo juga mengingatkan bahwa struktur sosial Indonesia belum berubah sejak masa Orde Baru. Ketimpangan ekonomi tetap melebar, bahkan lebih tajam.
“Jarak antara orang terkaya dan masyarakat paling miskin di Indonesia kini bisa mencapai 30 ribu kali lipat. Ini menandakan demokrasi tidak memperbaiki struktur sosial, melainkan memperkuatnya,” ucapnya.
Dalam konteks global, ia menyoroti ancaman baru terhadap demokrasi kecerdasan buatan. Teknologi digital, kata Widodo, telah menciptakan bentuk kekuasaan baru yang mampu mengatur perilaku publik tanpa mekanisme politik tradisional.
“Platform digital tahu lebih banyak tentang kita ketimbang diri kita sendiri. Ketika mereka yang menentukan arah pilihan dan opini publik, maka demokrasi bisa kehilangan maknanya,” ujarnya.
Diskusi yang dimoderatori oleh Direktur Eksekutif ELSAM, Desiana Samosir ini menghadirkan sejumlah tokoh seperti mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman, aktivis perempuan asal Aceh Suraiya Kamaruzaman, dan peneliti kebijakan teknologi Wahyudi Djafar. Acara tersebut menjadi bagian dari peringatan ulang tahun ke-32 ELSAM.
Penulis Dodi Sanjaya