Diskusi Terfokus Menentukan Standar Operasional Prosedur Situs Web ARK
ELSAM-Jakarta. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) yang tergabung dalam cluster Public Discourse menjadi fasilitator dari terlaksananya diskusi terfokus untuk membahas Standar Operasional Prosedur Situs Web Aliansi Riset Kebijakan Indonesia (ARK) pada 15 Februari 2018, di bilangan Menteng Jakarta. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk membangun mekanisme kerja pengisian laman ARK yang ditujukan untuk meningkatkan diskursus publik terkait isu penelitian di Indonesia.
Aliansi ini terdiri dari 16 lembaga penelitian mitra yang bertujuan untuk melakukan tindakan kolektif dalam mendukung perubahan sistem produksi pengetahuan bagi kebijakan. Dalam diskusi terfokus tersebut dihadiri oleh 13 perwakilan peneliti dan tim komunikasi untuk membahas mengenai ketentuan-ketentuan konten, pengelolaan teknis situs web resmi dan kegiatan lanjutan yang berkaitan dengan ARK.
Secara garis besar, website ARK akan menunjukan hambatan sistemik iklim penelitian di Indonesia, yakni : rendahnya akses dana penelitian, belum maksimalnya kualitas penelitian, belum optimalnya diskursus publik hasil penelitian, dan tidak tersedia serta sulitnya akses data untuk kepentingan riset. Hambatan tersebut menjadi basis kerja ARK yang dibagi ke cluster kerja. Laman situs ARK akan menjadi gerbang awal menuju agenda kerja tiap cluster seperti situs Pangkalan Data yang dikelola cluster Repository dan Access Data oleh Cakra Wikara Indonesia dan situs Peer Review berbasis daring yang dikelola Cluster Kualitas Riset oleh Artikel 33.
Perihal ketentuan mengenai konten disepakati website ARK nantinya akan memuat tiga menu utama yaitu berita, opini dan siaran pers. Tiap-tiap konten menu utama yang nantinya akan diterbitkan oleh website ARK bukanlah duplikasi dari konten yang telah diterbitkan oleh website dari lembaga anggota. Lalu direncanakan penerbitan konten baru setiap empat bulan yang akan berisikan 16 konten berita dari masing-masing lembaga.
Konten berita yang dimaksud akan berupa in depht news yang akan difokuskan pada jurnalistik data. Website ARK juga direncanakan akan memiliki 16 publikasi khusus selama setahun. Untuk penulisan opini diputuskan untuk dibuka bagi kontributor dari pihak umum di luar lembaga anggota ARK.
“Kita bukan pemiilik tunggal pengetahuan, malah jangan-jangan di luar sana ada peneliti maupun penulis yang lebih baik” ujar Yeuti Nurhidayat mewakili Sekretaris Nasional Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA).
Hal ini disetujui oleh semua pihak walau awalnya ada pertentangan dari sejumlah peserta yang hadir. Namun diskusi dapat ditengahi dengan baik oleh Wahyudi Djafar Deputi Direktur ELSAM, selaku moderator dalam diskusi ini.
“Baik ada peluang untuk membuka kiriman opini dari penulis luar, dibuatkan prasyarat dan disclaimer yang menjelaskan bahwa tanggung jawab konten-opini yang diterbitkan diserahkan kembali kepada penulis”.
Selanjutnya, didapat juga kesepakatan dalam penetapan alur dari website ARK. Pertama, setiap konten yang berupa tulisan baik itu opini maupun berita akan diterima oleh sekretariat redaksi. Kedua, setelah tulisan terkumpul, sekretariat redaksi akan menyalurkan tulisan tersebut kepada editor yang memiliki fokus terhadap isu yang akan mereka edit serta tiap editor wajib berpengetahuan mendalam mengenai hak asasi manusia secara universal. Langkah ketiga, Jika telah ditelaah oleh editor, tulisan tersebut akan diserahkan kembali kepada sekretariat redaksi sebelum konten tersebut diterbitkan.
“Jadi prosesnya dari masing-masing lembaga akan mengirimkan tulisan ke sekretariat redaksi, dari sana sekretariat redaksi akan menunjuk satu dari 16 editor, jika sudah dari editor maka akan dikembalikan ke sekretariat, lalu naik ke admin dan dipublikasikan kecuali jika ada perbedaan prinsipil maka sekretariat akan membahasnya dan membentuk tim adhoc” sebagaimana diungkapkan oleh Wahyudi Djafar kembali, yang disetujui semua pihak.
Situs ARK sendiri akan menjadi kunci komunikasi anggota aliansi yang akan diluncurkan pada tanggal 28 Februari 2018 dalam Seminar ARK di Kantor Centre for Strategic and International Studies. []
Penulis: Riska Carolina